“Merasa menyesal karena sudah tahu manfaatnya!” Temukan bagaimana seorang alumni bacakilat merasa terlahir kembali.

Wulan Sari Tano yang mengkuti Workshop Bacakilat 3.0 batch 152 tahun 2017 di Pekan Baru

Saya Wulan Sari Tano. Keseharian sebagai ibu rumah tangga dan juga mengurusi bengkel body repair. Saya juga sering ke luar kota mengurus kebun sawit yang tidak terlalu luas dari tempat saya tinggal.

Saya mengikuti Bacakilat di Pekanbaru di batch 152 tahun 2017 dan yang mengajar saat itu adalah pak Yulius. Beliau itu sangat luar biasa. Saya melihat anak muda yang sangat antusias. Saya sangat menyukai gaya dia mengajar. Gayanya beliau mengajar membuat saya termotivasi untuk belajar.

Alasan saya mengikuti pelatihan Bacakilat karena saya tidak paham dengan apa yang telah saya baca. Setiap hari saya memang membaca. Minimal setengah jam sampai satu jam. Tapi saya mudah lupa dengan apa yang sudah saya baca.

Saya tahu Bacakilat lewat facebook. Jadi hari itu, kebetulan saya sedang dalam perjalanan ke luar kota. Saya buka facebook saat ada sinyal dan ketemu dengan iklan Bacakilat. Melihat judul iklannya saya bertanya-tanya, “Apa itu Bacakilat?”

Saya buka dan baca-baca, karena di situ disebutkan bagaimana bisa menuntaskan 1 buku kurang dari 2 jam. Saya penasaran, “Bagaimana bisa baca satu buku kurang dari 2 jam. Terus paham lagi dengan isi bukunya?” Saking penasaranya, saya langsung daftar dan mengikuti seminarnya.

Sekitar satu minggu kemudian, seminarnya diadakan di hotel Premiere, kalau tidak salah. Di seminar itu kan materi yang dibagikan hanya kulit-kulit dari Bacakilat.

Yang membuat saya terus penasaran bagaimana bisa menyelesaikan 1 buku dalam waktu 1 sampai 2 jam. Saya juga ingin bisa melakukan hal yang sama. Itu buat saya semakin penasaran dan gregetan.

Lalu dibukalah pendaftaran untuk belajar Bacakilat. Saya langsung mendaftar. Acaranya dua hari sedangkan saat itu saya lagi sibuk-sibuknya ke luar kota untuk mengurus sawit saya.

Karena sudah komit ingin belajar, ya sudah saya siapkan waktu 2 hari. Jadi pekerjaan saya itu saya serahkan ke karyawan saya untuk urus.

Di pelatihan 2 hari, hari pertama, saya bisa mengikuti penjelasan dari pak Yulis dan tahu gambaran besar cara melakukan Bacakilat. Hari kedua, saya langsung merasa, “Oh ternyata seperti ini, tho. Ternyata tidak sesulit yang saya pikirkan juga, ya. Begitu mudahnya melakukannya. Praktis dan yang pasti tidak menyita waktu saya begitu lama untuk menuntaskan satu buku. Saat diajarkan ternyata prosesnya mudah”.

Intinya, di hari kedua saya merasa sangat-sangat puas dengan penjelasan dari pak Yulius. Saya sangat senang. Ternyata inilah rahasia membaca yang saya cari-cari selama ini. Cara membaca yang begitu sederhana dan cepat. Pemahaman membaca saya juga meningkat. Saya jadi berpikir, “Kenapa tidak dari dulu ya saya tahu Bacakilat ini. Wah, rugi banget tahunya sekarang.”

Saya sharing ke anak saya yang paling besar. Saya bilang, “Gi (nama anaknya Anggi, ed), mama sudah selesai mengikuti pelatihan Bacakilat. Mama merasa sangat beruntung. Tapi mama merasa terlambat. Lihat nih buku mama yang begitu banyak. Targetnya Gi, satu tahun harus selesai semua.”

“Mama yakin? Dikasih waktulah. Banyak kerjaan seperti ini nanti tidak habis dibaca semua.” Kata anak saya. “Kalau mama punya waktu saja, habis samua saya baca haha” kata saya.

Lucunya, kalau anak saya pergi ke Gramedia, dia foto banyak buku, “Ma, ini banyak buku. Mama mau tidak yang ini?” “Boleh-boleh, belilah” kata saya.

Ini saya punya dua buku karangan Sifu Jonathan. Itu bukunya tebal pak, 465 halaman satu bukunya. Saya memang belum baca. Kemarin (wawancara diadakan pada tanggal 21 september 2018, ed) saya baru buka sampulnya karena saya masih baca yang lain.

Saya ingin targetkan, sabtu dan minggu ini, saya akan selesaikan satu buku ini. Sabtu dan minggu depannya saya ingin selesaikan satu lagi. Tapi itu tulisannya kecil-kecil pak.

Dengan Bacakilat pemahaman saya meningkat drastis meskipun bisa baca dengan sangat cepat. Satu buku bisa saya selesaikan dalam waktu kurang lebih 2 jam. Paling lama 3 jam kalau halamannya tebal sekali, sekitar 350-400 halaman.

Sebelum mengikuti pelatihan Bacakilat stok buku baru saya banyak sekali. Waktu pelatihan Bacakilat, saya membawa 6 buku dan semuanya adalah buku baru yang belum pernah saya baca sebelumnya dan saya berhasil menyelesaikan hampir 3 buku beserta dengan mind mapping.

3 buku yang hampir selesai itu adalah buku yang tebal-tebal, sekitar 400an halaman. Keberhasilan saya memecahkan rekor membaca ini membuat saya semakin semangat dan terpacu sampai hari ini untuk terus membaca buku.

Sampai hari ini saja, saya telah menuntaskan 55 buku (wawancara diadakan pada tanggal 21 september 2018, ed). 10 buku saat menyelesaikan masa bingung plus 25 buku setelah masa bingung dan 20 buku yang saya hanya Bacakilat dan baca secara manual tanpa melakukan aktivasi otomatis.

Kalau ingat dulu sebelum mengenal Bacakilat, untuk menuntaskan satu buku bisa butuh waktu 2-3 bulan untuk buku yang saya suka, kalau ga, saya tidak pernah bisa menyelesaikan satu buku pun. Meskipun saya sudah menyediakan waktu, tetap saja tidak bisa karena sudah keburu ngantuk duluan saat baca.

Sekarang dengan Bacakilat saya bisa selesaikan satu buku dalam waktu 2-3 jam. Saya juga sudah paham akan isi bukunya.

Kalau saya perhatikan efek dari banyak Bacakilat buku bukan pemahaman saya saja yang meningkat derastis, saya merasa kalau saya semakin kritis. Ceritanya, setelah selesai pelatihan, satu minggu kemudian ada seminar tentang persamaan gender dari pemerintahan di Riau.

Pada saat pembicara menjabarkan materi dan dia belum selesai menjelaskan saya merasa sudah memiliki banyak pertanyaan. Sampai semua teman-teman kaget dan berkata, “Bu Wulan, kamu luar biasa sekali hari ini? Pertanyaan kamu itu sangat-sangat mengena pada pembicara di atas sana. Dia tidak akan bisa jawab nanti pertanyaan kamu itu. Lihat saja.” Dan memang benar, pembicaranya sampai kewalahan dengan pertanyaan yang saya ajukan.

Sampai saya sampaikan ke pak Yulius, “Pak hari ini saya mengikuti seminar dan pemahaman saya tinggi sekali berkat menggunakan kondisi genius. Sangat-sangat membantu sekali dan pertanyaan yang saya ajukan mengena ke pembicara.” “Wah bagus dong bu. Selamat ya.” kata pak Yulius

Itu jadi satu pengalaman luar biasa. Saat pulang seminar ke rumah saya pikir-pikir setelah saya belajar Bacakilat, saya merasa terlahir kembali. Maksudnya, awalnya saya berpikir kalau belajar membaca saat ini sudah bukan waktu saya lagi.

Dengan usia 53 tahun. Begitu saya mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan Bacakilat, saya justru berpikir kebalikannya. Saya merasa seperti terlahir kembali. Sekarang saya suka belajar, suka baca. Saya merasa termotivasi lagi. Kalau lihat buku yang sudah dibeli saya langsung baca dan hari itu juga dituntaskan. Ini membuat saya senang sekali. Tidap pernah saya bisa baca 1 buku sekitar 2 jam.

Saat ini saya sedang fokus membaca buku-buku tentang trading. Saya juga membandingkan pemikiran-pemikiran penulis dan saya juga harus membaca buku secara manual untuk buku-buku spiritual. Kenapa?

Karena saya harus memberikan ceramah. Ceramah rutin yang harus saya bawakan satu bulan sekali di tempat ibadah saya. Jadi saya harus bacanya secara manual. Karena isi bukunya tidak berhubungan satu halaman ke halaman yang lain.

Maksudnya buku spiritual, bukan kitab suci melainkan buku-buku yang berhubungan dengan spiritual dari Buddist, bukunya itu sangat tebal-tebal. Tapi tetap, saya menggunakan Bacakilat juga. Hanya saja untuk aktivasi manualnya saya lakukan dengan cara baca biasa.

Untuk trading, itu adalah hal baru bagi saya. Dengan Bacakilat saya merasa bisa memahami trading lebih cepat dan hemat waktu. Saya memang belum coba untuk terjun ke situ langsung tapi saya sedang membaca buku-buku terkait trading dan bursa saham. Ke sini-sini semakin belajar trading dan saham saya merasa saya bisa lebih cepat terjun langsung ke trading ini.

Sebagai perbanding, sebelum mengenal Bacakilat saya pernah belajar tentang fungsi otak kiri. Saya pernah mempelajarinya sampai satu tahun. Saya sampai baca bukunya berkali-kali tapi tetap tidak paham juga.

Jadi saya harus benar-benar ilustrasikan. Saya baca lalu pikirkan. Begitu terus. Baru saya mengerti. Jadi perbandingan belajar dengan Bacakilat dengan baca biasa itu terasa sekali.

Di luar ini saya juga mau cerita hal lain setelah mengikuti pelatihan Bacakilat. Saya suka memasak. Kalau saya lihat youtube tentang cara memasak yang belum pernah saya masak, itu juga cepat sekali. Jadi seakan-akan saat saya lihat videonya saya sudah tahu. Saya tidak harus menonton videonya sampai habis dan rasa masakannya pasti luar biasa.

Itu benar-benar terjadi. Sampai anak saya kasih tahu, “Mama sekarang pintar masak ya. Enak lho ma masakan mama.”

“Itu tadi pakai resep baru. Saya melihatnya di youtube”, kata saya. “Kok cepet ma?” kata anak saya. “Cepet-lah. Kan mama sudah belajar Bacakilat hahaha”, saya jawab sambil bergurau.

Bukan hanya membaca. Ada banyak hal yang bisa membantu saya. Seakan-akan saya belum tahu cara memasak satu jenis masakan tertentu seperti apa. Misalnya, bertahun-tahun saya ingin buat ikan bandeng presto. Bertahun-tahun, saya tidak pernah bisa memasaknya.

Tempo hari saya iseng-iseng lihat videonya, “Cara memasak ikan bandeng presto”, begitu saya buat, jadi dan saya bagi ke teman-teman, “Wuih, mantap sekali. Boleh-lah kita buka restoran ikan bandeng presto”, kata mereka.

Saya bilang, “Nanti yang buat kamu ya?” “Ga lah. Tapi ini enak sekali. Nanti kamu buat lagi ya” kata teman saya. “Saya sudah malas buatnya ini. Tapi saya sudah ada resepnya yang saya lihat dari youtube”, kata saya. “Saya juga sudah belajar tapi tidak seenak ini”, kata mereka.

Biasanya kalau masak, saya merasa tidak segampang itu bisa. Selain membaca buku, saya juga merasakan manfaat Bacakilat dalam proses memasak saya.

Biasanya kalau masak, saya merasa tidak segampang itu bisa. Tapi yang saya rasakan setelah pulang dari pelatihan Bacakilat dan rutin Bacakilat kemampuan memasak saya juga semakin meningkat. Saya merasa mudah meracik bumbu masakan walau hanya melihat dari youtube.

Setelah Bacakilat banyak buku sekarang saya merasa lebih percaya diri. Saya bisa melihat segala sesuatunya dengan positive thinking. Saya merasa menjadi lebih sabar.

Biasanya, saya dikenal sebagai orang yang mudah emosional. Contohnya, supir saya jemput anak. Kalau kembalinya lama sampai di rumah maka saya bisa marah. Saya bisa bolak balik telpon supir saya karena sudah marah.

Termasuk kalau supir saya sedang pergi mengambil barang untuk bengkel, kalau lama, saya tidak mau tahu alasannya. Pokoknya saya jadi marah saja.

Kalau sekarang tidak. Mungkin karena faktor membaca, sekarang saya bisa lebih mengerti. Mungkin di jalan sedang macet atau apa. Saya bisa melihat segala sesuatunya itu menjadi lebih positif.

Bukan hanya itu saja, disiplin diri saya juga semakin berkembang, khususnya dalam ketepatan waktu. Sebelum mengikuti Bacakilat, saya merasa lebih mudah untuk menunda.

Dengan Bacakilat, banyak yang bisa dibaca dan pemahaman tinggi yang saya dapatkan, saya merasa waktu itu sangat berharga sekali dan tidak boleh disia-siakan. Saya pikir itu.

Begitu ada kesempatan, saya langsung belajar. Misalnya, sekarang lagi ngetren trading. Meskipun saya belum percaya, saya tidak mau ketinggalan. Saya niatkan untuk belajar. Dalam waktu dekat ini juga saya akan mengikuti seminar tentang trading, saya sudah daftar.

Jadi bagi teman-teman yang ingin maju, ingin bertumbuh, ingin lebih percaya diri, ingin pengetahuannya lebih tinggi, memahami isi buku yang dibaca, saya sangat menyarankan untuk mempelajari Bacakilat. Saya rasa kesempatan ini jangan dilewatkan.

Saya sampaikan ke teman-teman saat berkumpul, bagi saya, harga yang diberikan oleh pihak Bacakilat tidaklah semahal itu jika dibandingkan nilai dan manfaat yang bisa saya dapatkan.

Justru saya merasa itu sangat murah. Bagi saya bisa menuntaskan satu buku dalam kurun waktu 2 jam itu sangatlah berharga daripada harus mengulangi baca berkali-kali tapi tetap tidak paham juga.

>