“Besar keyakinan saya Bacakilat pasti bisa membantu saya” What! Apakah yang Bacakilat bisa bantu untuk mereka yang menggunakan Bacakilat?

Bu Anriani Safar yang mengikuti Workshop Bacakilat 3.0 batch 228 bulan September 2018 di Bandung

Halo, saya Anriani Safar. Saya seorang PNS di Pemda kabupaten Jayapura Prov. Papua. Saya bertugas di kantor perijinan terpadu.

Saya mengikuti pelatihan bacakilat di Bandung angkatan 228 pada bulan September 2018. Yang mengajar saat itu adalah pak Yulius Damian.

Mungkin Anda berpikir, “Kenapa saya bisa mengikut pelatihannya di Bandung sedangkan saya berdomisili di Jayapura?”

Karena saat itu saya sedang ada tes interview untuk melanjutkan  pendidikan saya di Bandung. Bertepatan pada saat itu ada pelatihan Bacakilat sehingga saya mengikutinya.

Ada banyak hal yang membuat saya tertarik dengan bacakilat. Salah satunya, saya ingin menuntaskan buku-buku akademik saya. Ini akan menjadi kebutuhan saya karena saya ingin melanjutkan pendidikan saya.

Saya sadar, dengan usia saya yang sudah 40an. Faktor U ini sangat berpengaruh pada daya ingat, tentunya akan menjadi masalah tersendiri jika saya tidak membekali diri saya dengan metode membaca yang tepat dalam menghadapi perkuliahan saya.

Membaca terkadang kan membuat kita susah berkonsentrasi. Banyak buku yang harus dibaca, tapi bagaimana cara memahami isinya jika saya sendiri tidak bisa berkonsentrasi memahami isi buku itu.

Seperti yang saya sampaikan tadi, masih banyak buku-buku akademis saya yang belum selesai saya baca. Padahal itu akan sangat membantu saya dalam perkuliahan nantinya. Ini belum termasuk buku wajib dari kampus yang harus juga saya baca.

Selain itu, saya sadar adanya gap pada kualitas dan standar pendidikan di pulau Jawa dengan Papua itu sangat tinggis. Saya sendiri merasa kesulitan memenuhi standar tersebut dibandingkan dengan teman-teman di Bandung. Sedangkan pendidikan terjauh yang pernah saya jalani hanya di Papua dan Makassar.

Selain harus mempertimbangkan faktor usia, hampir 10 tahun lebih, baru saya studi kembali. Dalam 10 tahun ini rasanya saya tertinggal sekali. Jadi saya pikir, kalau saya tidak banyak-banyak membaca, saya tidak akan bisa mengimbangi pengetahuan saya dengan teman-teman.

Yang saya lihat, banyak dari mereka yang baru selesai pendidikan, langsung melanjutkan S2 dan S3. Jadi ini membuat saya berpikir, “Pasti saya sudah tertinggal sekali”, begitu.

Padahal saya sendiri belum masuk proses perkuliahan secara ril. Karena masih ada persyaratan yang kurang lengkap. Saya juga masih mengurus rekomendasi tugas belajar. Ini yang membuat penerimaan saya sebagai mahasiswa menjadi tertunda.

Jadi saat ini saya ikut program credit earning, satu program yang diadakan di ITB untuk mahasiswa yang ingin try out dulu. Nilai yang diperoleh akan disimpan dan dapat digunakan pada saat berstatus menjadi mahasiswa dan mengambil mata kuliah tersebut.

Kemarin saya sempat mengambil 10 sks, sekitar empat mata kuliah. Awalnya saya berpikir akan dapat nilai error, E. Setelah nilai keluar, alhamdulilah ternyata saya mendapatkan nilai B.

Walaupun bukan A, B sudah cukup baik sekali karena hampir semua teman-teman seangkatan saya usia mereka rata-rata masih muda sehingga masih bisa fokus pada studi.  Awalnya saya sempat merasa down dan tidak PD juga.

Dari hasil try out itu, saya berharap begitu masuk ke perkuliahan yang sesungguhnya saya bisa mencapai hasil lebih baik lagi dengan menggunakan bacakilat.

Saya berharap dengan menguasai bacakilat ini saya bisa menyelesaikan perkuliahan S3 saya dalam 5 tahun dan lulus dengan nilai terbaik. Kalau tidak saya bisa DO. By the way, saya mengambil program studi transportasi di ITB Bandung.

Saya sempat tanyakan ke dosennya. Secara hitungan saya mengikuti perkuliahan selama 6 semester tapi begitu menyusun disertasi akan membutuhkan waktu sekitar 2 tahun untuk penelitian. Jadi kata dosennya sih jarang ada mahasiswa yang lulus 5 tahun.

Makanya saya sangat berharap bacakilat benar-benar bisa membantu saya dalam mencapai target perstudian saya. Itu yang membuat saya antusias sekali waktu mengikuti pelatihan bacakilat yang di Bandung itu.

Banyak hal yang sudah saya perjuangkan untuk memenuhi persyaratan masuk ke ITB. Termasuk TPA, bayangkan saja, untuk mengikuti tes ini saya ekstra belajar soal TPA, saya cuma tidur 2 jam di saat menghadapi tes tersebut. Saya mengikuti dua kali tes, yang pertama di ITB tapi tidak lulus.  Saya langsung berangkat ke Jakarta dan mengikuti tes yang diselenggarakan oleh Bappenas dan hasilnya saya lulus. Kalau saya gagal, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saya begitu mengorbankan banyak hal dalam menempuh pendidikan saya ini. Mengingat saya sudah belajar sepanjang hari selama di Bandung untuk mendapatkan nilai sesuai standar. Hal itu tentu tidak mudah dan itu saya perjuangkan.

Hal ini tidak mudah mengingat semua biaya yang sudah saya keluarkan menjadi tanggung jawab saya sendiri.  Belum lagi harus memikirkan anak-anak saya yang masih kecil. Ini juga menjadi pertimbangan. Sekarang ada orangtua yang harus saya rawat, sedang dalam keadaan sakit. Jadi besar harapan saya bacakilat bisa membantu saya menyelesaikan perkuliahan saya.

Terkadang perasaan down itu sering muncul, “Aduh, ini bagaimana ini? Bisa ga ya saya?” tapi terkadang pikiran saya ngomong sendiri, “Ahhh, udahlah tenang saja. Kan sudah ada bacakilat yang dapat membantu saya menghadapi masalah membaca.”

Mendapat pemikiran seperti ini membuat saya jadi lebih tenang. Terutama saat nilai try out saya keluar. Hasil try out itu sangat meningkatkan kepercayaan diri saya.

Semenjak pelatihan sampai hari ini, saya sudah menuntaskan 16 buku. Memang lambat sih, tapi saya berharap bisa konsisten lagi nantinya, paling tidak satu minggu satu buku, yang semestinya satu hari bisa selesaikan satu buku.

Masalahnya setelah saya kembali ke Jayapura, saya sudah harus mengerjakan banyak hal. Mulai dari pekerjaan, bisnis, membagi waktu dengan anak dan orangtua saya, membuat saya dalam tiga bulan ini hanya bisa menyelesaikan 3 buku.

Dulu sewaktu di Bandung, saya bisa menyelesaikan 11 buku. Sampai akhir tahun saya selesaikan sekitar 13 buku. Itu suasananya berbeda sekali. Kalau di Bandung saya hanya fokus untuk belajar dan belajar.

Kalau di sini sudah harus pintar-pintar bagi waktu karena banyak hal harus diselesaikan. Lama-lama kalau tidak baca buku, saat mau baca lagi, rasanya malas banget.

Kemarin begitu diingatkan tentang interview hari ini, (interview dilakukan tanggal 6 Maret 2019, ed) saya sudah intropeksi diri, “Aduh, saya sudah berapa lama ini sudah tidak menuntaskan buku lagi.”

Jadi, mulai dari sini, saya akan kembali membangun kebiasaan membaca lagi. Memulainya ini yang paling sulit. Tapi kalau sudah dimulai membaca dan membuat mind mapping, justru saya bisa menyelesaikan buku itu. Seperti itu juga yang terjadi di awal-awal saya mempraktekkan bacakilat.

Makanya pemahaman membaca saya berubah setelah saya mempelajari bacakilat. Kalau dulu saya berpikir untuk membaca saja butuh usaha yang sangat besar karena terkadang ada rasa malas atau pun tidak fokus. Ketika selesai belajar bacakilat, ternyata membaca itu mengasyikkan kalau mengetahui metodenya.

Bacakilat ini adalah metode terbaik yang saya ketahui. Makanya membaca bisa menjadi mengasyikkan. Menurut saya, hal yang membuat membaca itu mengasyikkan terjadi pada saat saya bisa menjadi penikmat isi buka sekaligus menjadi pengamat atau sebagai penulis buku.

Penikmat berarti saya mencari informasi sesuai tujuan saya sedangkan pengamat ini mengikuti cara berpikir penulis, struktur penulisan dan materi yang dimilikinya dibandingkan dengan buku-buku yang terkait dan berhubungan.

Kenapa saya bisa bilang menjadi pengamat juga? Karena dulu saya pernah menulis buku. Jadi membuat saya lebih aktif bertanya dan mencari tahu pemikiran si penulis dan struktur buku itu disusun seperti apa.

Dampak dari praktek bacakilat yang paling terasa terlihat di studi saya karena kebanyakan buku yang saya bacakilat adalah buku-buku akademis, materi-materi kuliah berupa kopian serta modul-modul wajib. Hasilnya melebihi ekspektasi saya. Saya bisa mendapatkan IP 3,15. Saya sendiri awalnya berpikir hasil belajarnya pasti akan jelek sekali haha…

Selain buku-buku akademis, saya juga ada baca buku-buku agama yang bertopik parenting. Membaca buku itu memberikan banyak pemikiran baru ke saya. Kalau saya stres, anak akan sering menjadi sasaran.

Dari buku itu saya mendapatkan penjelasan mengapa hal itu tidak baik untuk saya dan anak. Dari sejak itu, saya menjadi lebih sabar. Saya tidak lagi dengan mudah melampiaskan kemarahan saya ke anak. Saya selalu diingatkan dengan pemahaman baru dari buku parenting itu.

Satu hal yang paling saya suka dari bacakilat itu, saya merasa mencapai satu prestasi kalau sudah menuntaskan satu buku. Buku-buku itu sudah ada sejak 20 tahun yang lalu waktu saya masuk kuliah dulu tapi tidak pernah ada 1 buku yang saya selesai baca.

Begitu saya sudah menyelesaikan satu buku, saya merasa lega dan senang sekali. Ada kepuasan tersendiri bisa menyelesaikannya. Rasanya, “sangat lega.” Seperti hilangnya beban berat yang sedang kita pikul.

Mungkin bagi yang lain itu biasa saja tapi itu tidak bagi saya. Karena masalah waktu. Sekian tahun saya menyimpan buku itu dan dengan bacakilat hanya dengan 1, 2 jam saya bisa selesaikan 1 buku dan bagi saya itu prestasi. Rasanya seperti melepas beban, lega sekali.

Bagi teman-teman yang selama ini belum mendapatkan informasi dari bacakilat, itu bukan salah Anda. Tapi kalau Anda sudah mendapatkan informasi ini tapi tidak atau belum mau membaca dengan metode bacakilat, itu pilihan Anda.

Mau maju atau tidak, mau meningkatkan diri dan mengoptimalkan potensi diri atau tidak, itu pilihan anda.  Termasuk mau menggunakan metode bacakilat atau tidak, semua itu pilihan teman-teman. Apapun yang kita putuskan hari ini akan berdampak di kemudian hari. Kalau kita putuskan mau ikut, manfaatnya diambil sendiri di kemudian hari.

Prinsip saya, siapa yang menanam, dia yang menuai. Kalau dia menanam hal yang baik-baik, salah satunya ini yang saya yakini bacakilat dapat membantu saya, saya yakin Insya Allah ke depan saya bisa tuai hasilnya. Bahkan saya sudah pernah menuai hasilnya di studi saya.

Kalau teman-teman mau ikut atau tidak, itu adalah keputusan teman-teman. Kalau saya sendiri bisa mendapatkan manfaatnya, teman-teman juga pasti akan mendapatkan hal yang sama. Manfaatnya tergantung pada tujuan kita mempelajari bacakilat.

>