“IP 4? Why not?” Temukan, bagaimana seorang ibu rumah tangga alumni bacakilat bisa mendapatkan IP 4 Dan menjadi lulusan terbaik di angkatannya

Endar Desri Kumala Dewi yang mengkuti Workshop Bacakilat 3.0 bulan Juni 2016 di Bandung

Saya Endar Desri Kumala Dewi. Berprofesi sebagai PNS di bappeda kota Bandung. Ibu satu anak. Ikut Bacakilat di bulan Juni 2016 di Bandung dan yang mengajar saat itu adalah Pak Agus Setiawan.

Alasan saya mengikuti Bacakilat karena memang khusus untuk akademik. Mulai agustus 2016 saya mendapat beasiswa mengambil S2. Karena usia juga sudah 30an lebih, ibu-ibu dengan 1 anak, jadi saya mengikuti Bacakilat untuk persiapan S2 saya, untuk membantu proses belajar agar S2 saya lancar.

Target saya dalam 3 semester S2 saya sudah selesai. Kalau lebih dari 3 semester saya yang akan bayar sendiri. Biayanya lumayan besar, 11 juta per semester. Lebih baik saya invest sedikit uang untuk mempelajari teknik belajar agar target saya tercapai.

Di kampus, kelas yang saya ikuti adalah kelas reguler, senin sampai jumat. S2nya saya ambil di Magister Perencanaan Wilayah dan Kota di ITB Bandung. Jadi memang Bacakilat itu sangat membantu saya saat mengerjakan tugas-tugas kuliah, memahami buku literatur sama waktu persiapan ujian.

Dari pengalaman saya, belajar menggunakan Bacakilat, saya lebih cepat paham, lebih gampang ingat dan waktu hari H ujian, saya merasa lebih lancar menjawab soal ujian. Karena untuk beberapa ujian yang close book, materinya banyak, chapternya banyak, jadi saya bisa lebih cepat menyelesaikan baca buku referensi, catatan kuliah, jurnal dan untuk ujian close book saya harus hafalin materinya, mau tidak mau.

Alhamdulillah, S2 saya selesai sesuai target saya. Saya masuk Agustus 2016 dan lulus di Februari 2018. Sesuai target, sekitar 15 -18 bulan. IPK di semester satu di 4,00. Semester dua, 3,9 dan semester tiga IPnya 4,00. Jadi IPK kumulatif saya 3,92. Lulusan cum laude.

Dulu sewaktu S1 saya juga mendapatkan lulusan cum laude di almamater yang sama. Hanya saja cara belajarnya berbeda karena saya belum mengenal Bacakilat saat itu. Bedanya belajar dengan cara baca biasa dengan Bacakilat.

Dengan Bacakilat saya lebih cepat paham, lebih cepat ingat untuk persiapan ujian-ujian close book. Yang sangat terasa sekali untuk saya adalah lebih cepat menangkap informasi yang saya butuhkan dari buku-buku yang harus saya pahami.

Saya punya balita di rumah. Jadi sambil mengambil S2, keluangan waktu tidak seperti dulu ambil S1. Saya pakai metode Bacakilat itu karena memang referensi yang harus saya baca itu sangat banyak dan waktu belajarnya terbatas. Kalau di rumah saya banyak bersama anak.

Jadi, mau tidak mau saya manfaatkan waktu di kampus untuk menyelesaikan tugas, persiapan ujian dan segala macamnya. Menggunakan Bacakilat ini sangat membantu saya dalam proses perkuliahan saya.

Kalau dibandingkan, misalkan untuk ujian saya harus menghafalkan satu bab itu. Dengan cara belajar konvensional saya butuh waktu memahami dan menghafal 2-3 jam dan itupun saya belum tentu benar-benar paham dan ingat semuanya.

Transkip IP selama mengikuti perkuliahan S2 di ITB Bandung

Dengan Bacakilat saya hanya butuh 45 menit sampai 1 jam. Saya sudah khatam dengan satu bab itu. Artinya saya bisa serap semua informasi yang ada di bab itu. Ini benar-benar mempersingkat proses belajar dan menghemat waktu saya belajar.

Dulu sewaktu pertama kali tahu tentang Bacakilat, mungkin sama seperti teman-teman yang lain. Pertanyaan yang terlintas di kepala saya adalah, “Ini benar ga sih?” seperti, “To good to be true”. Karena penasaran dan momennya pas banget untuk mau kuliah saat itu, saya langsung mengikuti seminar Bacakilat yang 3 jam.

Pada saat seminar saya mulai sadar umur. Umur saya sudah 30an, punya anak balita lalu harus menyelesaikan tugas belajar S2. Saya merasa, “Ini, S2 saya harus gunakan metode belajar konvensional maka akan berat banget. Artinya saya harus doing something new agar pendidikan S2 saya ini tidak menjadi beban buat saya”.

Setelah selesai seminar 3 jam itu saya ngomong ke pak Agus, “Pak saya mau ikut pelatihan Bacakilat tapi untuk akademik S2. Apakah cocok dengan kebutuhan saya pak?” “Ohh iya, cocok ibu” kata pak Agus. Jadi saya langsung daftar untuk mengikuti pelatihan Bacakilat 2 hari tanpa banyak berpikir lagi.

Selesai pelatihan Bacakilat saya hanya memfokuskan diri untuk membacakilat buku-buku yang berkaitan dengan perkuliahan, jurnal dan bahan-bahan dari kampus yang harus dikuasai. Untuk buku wajib saya bacakilat per chapter lalu membuat mind mappingnya. Kalau bukunya tidak terlalu berat saya hanya bacakilat saja.

Hal yang paling saya suka dari Bacakilat adalah aktivasi otomatis. Saat mendapat pertanyaan saya langsung mendapat banyak jawaban dari pikiran bawah sadar.

Pernah saat itu ada beberapa mata kuliah yang ujiannya close book. Saya kumpulkan catatan kuliah dari teman-teman. Saya copy lalu bacakilat dari diktat, catatan kuliah dan dari buku wajib sebagai sumber utama.

Lalu ada beberapa teman yang mengajak belajar bersama. Jadi saya sudah bacakilat, sudah hafal semuanya dan mereka seperti mau didongengin begitu. “Ini tentang apa sih bu Endar? Di bab 2 ini apa sih yang harus dikuasai?” Begitulah mereka bertanya.

Dan worth it. Habis itu hasil ujian saya tertinggi di kelas. 90 berapa gitu… Saya lupa angka tepatnya. Jadi memang yang sangat terasa adalah efisiensi waktu untuk membaca dan lebih ingat pada hari H ujian. Misalkan “Oh pertanyaan ini?” Itu saya langsung tahu, “Oh jawabannya ini ini ini…” begitu. “Jelaskan prinsip-prinsip ekonomi?” itu langsung keluar cepat jawabannya. Ahh itu yang paling saya senang dari Bacakilat.

Bagi teman-teman yang ingin meningkatkan diri melalui membaca seperti saya dalam pendidikan saya tapi belum percaya akan Bacakilat, itu adalah hal yang wajar. Bacakilat itu seperti learning by doing. Semakin kita praktek semakin kita menguasai sistem Bacakilat. Jadi memang harus dipraktekkan baru akan terasa hasilnya.

Di awal kita harus setting goal. Kita ingin dapatkan apa. Ini harus jelas dan clear. Seperti saya, gol saya mempelajari Bacakilat, karena saya ingin lulus S2, 3 semester, cum laude, IPK saya 4. Ini gol yang ingin saya capai yang saya set sejak awal.

Jadi ada sesuatu yang jelas yang kita kejar sebagai target. Nah dari situ, ketika saya menjalani prosesnya mulai dari semester 1. Target IP 4 tercapai 4, “Oh iya, tercapai juga”, saya sampaikan ke diri saya.

Kalau hanya lihat sekilas tanpa praktek rasanya tidak bermanfaat juga.  Jadi bagi teman-teman yang mau belajar Bacakilat, saya sangat merekomendasikan untuk mencapai hal yang Anda impikan.

>