Apakah Anda Sering Lupa saat Ujian? Temukan, Bagaimana Seorang Alumni Bacakilat Bisa Mengatasi Kebiasaan Lupanya pada Saat Menghadapi Ujian dan Menyelesaikan Ujiannya dengan Hasil Sempurna

Ibu Shiesta Melita Halim yang mengkuti Workshop Bacakilat 3.0 batch 195 bulan Februari 2018 di Medan

Hallo, saya Shiesta Melisa Halim. Berprofesi sebagai seorang guru, tepatnya jabatan fungsional saat ini adalah kepala sekolah. Saya ikut Bacakilat bulan Februari 2018 batch 195 di kota Medan.

Setelah saya menjabat sebagai kepala sekolah, saya mau, pengetahuan dan wawasan saya menjadi lebih luas. Alasan inilah yang membuat saya merasa butuh untuk membaca buku. Hanya saja masalahnya saya bukanlah orang yang suka membaca buku terutama untuk generasi (35-45 tahun, ed) saya di kota Medan . Karena kebutuhan, saya harus memaksakan diri saya untuk membaca buku.

Sering kali setiap masuk ke tempat penjualan buku, pulangnya saya pasti membawa buku baru karena judulnya sangat menarik buat saya. Tapi, saya tidak pernah menyelesaikan buku yang telah saya baca karena terlanjur bosan, cepat sekali saya mengantuk setelah membaca satu dua halaman. Karena sudah tidak semangat baca, saya ganti buku yang lain. Hasilnya juga tetap sama, rasa kantuk tetap saya alami hingga akhirnya saya berhenti membaca.

Terkadang ada beberapa buku yang sangat saya sukai. Kalau saya suka dengan bukunya, saya bisa habiskan dalam tempo yang cukup singkat, mungkin 2 minggu bisa selesai. Tapi kalau bukunya tidak menarik, mungkin 2 bulan juga tidak selesai-selesai juga.

Pernah satu waktu sekolah kami mengundang trainer di bidang pendidikan untuk sharing ilmunya ke guru-guru kami. Di sesi sebelum dia sharing, beliau sempat bercerita bagaimana cara beliau membaca buku. Katanya dalam sehari ia bisa membaca 10 buku. Saya terkejut. Saya langsung tanya, “Lah bagaimana bisa?”.

Katanya, tipsnya adalah, “Dalam satu buku terdiri dari beberapa bab. Misalnya dalam satu buku ada 10 bab. Berarti di pertengahan di bab 5, “kamu baca yang bab 5 itu semua”, pasti kamu sudah mendapat semua inti dari buku ini”, jawabnya.

Mendengar pengalamannya, saya malah bertanya-tanya, “Koq bisa baca hanya bab 5 saja, saya sudah tahu seluruh isinya?” Saya tidak percaya. Itu tidak masuk akal bagi saya. Kan buku itu ditulis dengan struktur yang berbeda dari satu buku dengan buku yang lain. Jadi saya hanya mendengarkan dan tidak pernah melakukan tips membaca yang dibagikan oleh trainer itu.

Seiring waktu berjalan, saya mendapat iklan Bacakilat di facebook. Melihat iklannya, “Membaca satu halam satu detik” saya jadi penasaran dan bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin membaca satu halaman satu detik? Bagaimana caranya?” Wah, saat itu ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala saya.

Karena penasaran saya klik dan ada satu halaman yang menjelaskan tentang cara kerja Bacakilat. Setelah saya baca-baca saya merasa ini lebih masuk akal dibandingkan dengan tips membaca yang saya pernah dapatkan dulu. Lebih dari itu, karena memang saya ingin menambah wawasan melalui membaca buku maka saya putuskan untuk mengikuti seminarnya untuk mengetahui lebih jelas. Apakah memang ini benar atau hanya omongan marketing aja.

Dari seminarnya saya mulai paham kalau memang baca buku bisa satu halam satu detik. Karena ga diajarkan caranya semuanya di hari itu, maka saya mengikuti pelatihannya. Di pelatihan saya berhasil menuntaskan satu buku kurang dari 2 jam dan keberhasilan ini terus berlanjut setiap kali saya mempraktekkan bacakilat.

Jadi sampai hari ini (16 Juli 2018, ed) setelah mengikuti pelatihan Bacakilat di bulan februari, saya sudah menyelesaikan hampir 30 buku beserta mind mapping. Kalau hanya untuk bacakilat sendiri perhari saya pasti bacakilat satu buku tapi ini tidak selalu saya buatkan mind mapping. Ini belum termasuk dengan buku-buku yang harus saya pelajari di sekolah ataupun membaca jurnal untuk menyelesaikan tugas kampus.

Setelah rutin bacakilat, ada banyak manfaat yang saya rasakan. Pertama, secara intelektual wawasan saya bertambah. Yang tadinya saya tidak tahu, sekarang saya sudah tahu lebih banyak. Tetapi yang sangat, sangat, sangat saya rasakan di diri saya adalah sekarang saya ngomong tidak perlu mikir panjang, asal keluar saja, asbun namanya, asal bunyi aja, sekarang sudah bisa.

Dulu mau ngomong itu rasanya gagap (berbicara terbata-bata, ed), harus mikir panjanggg…, baru bisa ngomong apa yang mau disampaikan. Kalau sekarang saya sampai terheran-heran sendiri, “Lho, sekarang koq saya bisa langsung ngerocos panjang lebar ya?” Saya baru sadar kalau saya bisa begini setelah bacakilat banyak buku.

Manfaat Bacakilat juga saya rasakan di pendidikan saya khususnya saat menghadapi ujian. By the way, saat ini saya sedang kuliah S1 pendidikan karena backgroud pendidikan saya sebelumnya adalah diploma akutansi. Jadi saya harus mulai lagi dari awal hahaha …

Saya merasa kalau saya ini orangnya pelupa. Saya paling takut kalau ujian dengan jawaban pilihan berganda. Aduhhh, saya merasa itu paling sulit. Soalnya jawabanya pasti menjebak. Bisa a, bisa b. Jadi saya sudah angkat tangan terlebih dulu kalau ujian jawabannya pilihan berganda.

Pada saat itu, setelah mengikuti workshop Bacakilat, kebetulan saya ada ujian 2 kali dalam waktu yang berbeda. Dalam 2 kali ujian saya menemukan kebuntuan, “Oke, saya kan sudah bingung. Yang a atau yang b ya?” Saya berbicara ke diri saya sendiri.

Karena tidak tahu jawabanya, saya tinggalin dan menjawab soal yang lain. Nah, tiba-tiba dalam waktu 1 – 2 menit kemudian, jawabannya muncul, “Ohh ini tho, itu-itu jawabannya. Udah pasti 100% jawabannya benar”. Saya langsung menjawab soal yang tadinya saya tidak tahu.

Jadi saat saya paksa berpikir jawabanya tidak muncul. Saya tinggalin dan kerjakan yang lain. Tiba-tiba jawabannya muncul. Saya sampai kaget dan langsung cepat-cepat menjawab. Itu terjadi dua kali.

Yang kedua ini bukan pilihan berganda tapi esai. Di mana kita harus menjelaskan. Ada satu kata yang saya lupa. “Aduhhh ini pola asuh. Satu demokrasi, satu yang seperti killer begitu, satu lagi apa ya?” sambil saya bertanya-tanya ke diri saya. Permisif jawabnya. “Tapi apa ya?” saya ternyata lupa permisifnya. Saya hanya ingat demokrasi dan otoriter itu.

Saya mentok. Udah saya tinggalkan, jawab pertanyaan yang lain dan ehh tiba-tiba jawabanya muncul. “Permisif!” Wahhh saya langsung cepat-cepat menulis hahaha…

Saya sampai terkaget-kaget. Biasanya kalau memang saya lupa, ya sudah lupa, ga pernah bisa muncul jawabannya. Ini koq bisa ya? Saya sampai 2 kali begitu.

Yang ketiga kali, waktu saya ngobrol-ngobrol dengan teman. Saat itu saya juga lupa kata kunci yang saya mau sampaikan. Ya sudah saya lanjutin obrolannya, ehh tiba-tiba muncul apa yang ingin saya sampaikan. Saya bilang ke diri saya, “Ehh ini nih kata-kata itu haha”. Jadi total ada 3 kali saya mengalami ingat ide yang saya ingin ketahui.

Kalau ngomongin tentang kuliah, saat ujian, sebenarnya saya tidak belajar tapi hanya bacakilat saja. Iya tahulah seorang ibu rumah tangga mau belajar lagi seperti mahasiswa yang lainnya tidak mungkin bisa, iya kan? Saya hanya bacakilat. Yaaa paling 15 menit.

Kalau ada buku yang saya rasa perlu dibuat mind mapping, saya buat. Lalu nanti saya bacakilat lagi bersama mind mapping yang telah dibuat. Udah begitu saja. Hasilnya luar biasa. Saya bisa mengingat lebih banyak dan siap untuk menghadapi ujian.

Bagi teman-teman yang ingin belajar bacakilat maka saya sangat merekomendasikan sekali, terutama bagi Anda yang sedang melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Saran saya, pertama, Anda harus yakin kalau Anda bisa menguasai Bacakilat. Kalau ga percaya maka Anda tidak akan bisa menguasainya.

Kedua, Anda harus praktek. Tidak peduli benar atau salah. Karena dari prakteklah Anda bisa mengetahui kemajuan Anda. Setelah praktek dan sudah ada mind mappingnya, Anda bisa bertanya ke pelatih kita, “Ini sudah benar belum?” Untung saja pelatih yang saya dapatkan, bapak Yulius sangat memotivasi untuk terus melakukan. Kalau Anda sudah yakin dan praktek, sudah ada mind mapping, maka hasilnya pasti akan terasa.

>