Bagaimana Seorang Alumni Bacakilat Bisa Menyelesaikan Tesisnya Bahkan Menjadi Expert Di Bidang Yang Digelutinya?

Pak Irwan yang mengikuti Workshop Bacakilat 3.0 batch 200 bulan April 2018 di Pekanbaru

Nama saya Irwan. Saya seorang pimpinan di salah satu pesantren di Pekanbaru. Saya juga seorang mahasiswa pasca sarjana jurusan manajemen pendidikan Islam.

Saya mengikuti pelatihan Bacakilat batch 200 di bulan April 2018 di Pekanbaru yang dibawakan oleh coach Yulius.

Saat sebelum mengikuti Bacakilat saya dalam kondisi galau karena desakan deadline untuk menyelesaikan tesis saya. Saya sudah punya koleksi ratusan buku. Tapi masalahnya, saya tidak memiliki motivasi untuk membacanya.

Biasanya saya hanya bisa membaca paling lama 10-15 menit. Setelah itu saya sudah bosan. Kalau saya sudah bosan, pasti sangat sulit bagi saya untuk memulai membaca buku lagi.

Karena cepat bosan, saya belum pernah bisa menuntaskan satu buku sampai habis. Bahkan dulu juga saya pernah mempelajari speed reading dengan harapan bisa membantu masalah membaca saya. Ternyata di situ, saya nilai ada pemaksaan mata untuk menangkap kata dengan cepat dan itu butuh latihan lama.

Karena tidak nyaman saya tidak menggunakan speed reading dalam praktek membaca. Saya kembali menggunakan cara baca konvensional. Saya cari yang saya butuhkan di daftar isi, lalu saya baca. Itu saja.

Tapi sangat berbeda saat saya menggunakan Bacakilat. Karena Bacakilat menjawab apa yang saya butuhkan. Itu kuncinya.

Saya, hanya dalam waktu satu jam atau satu jam setengah, saya menemukan apa yang saya inginkan. Sedangkan untuk speed reading, saya tetap butuh waktu karena saya belum terbiasa.

Speed reading membuat mata cepat lelah. Itu mesti istirahat. Sedangkan Bacakilat, setelah bacakilat saya merasa lebih enjoy dan happy setelah itu karena tidak teralu memaksa mata untuk bekerja. Saya tidak merasa mata saya lelah. Rasanya biasa saja seperti sebelum dan sesudah membaca.

Inilah yang membuat saya mengikuti pelatihan Bacakilat. Karena saat mendapat iklan Bacakilat di facebook, hal yang ditawarkan oleh Bacakilat adalah bagaimana kita bisa membaca dengan pemahaman tinggi, mendapatkan apa yang dibutuhkan kurang dari 2 jam.

Melihat saya sedang dikejar deadline tesis, maka keputusan saya semakin kuat karena memang sudah butuh cara membaca yang lebih efektif dari yang saya ketahui selama ini.

Selain itu, bagi saya, kunci ilmu itu semuanya ada di buku dan saya harus membaca. Kalau saya memiliki masalah di cara membaca, saya harus mengatasi masalah itu. Saya lihat di Bacakilat, ada tawaran solusi atas masalah membaca saya. Makanya saya ikut dari seminar sampai ke workshopnya.

Setelah pelatihan Bacakilat, saya menyelesaikan tantangan membaca 10 buku dalam waktu 2 atau 3 minggu lah. Yang pasti kurang dari satu bulan. Di angkatan saya, saya orang kedua yang menyelesaikan tantangan membaca yang diberikan oleh coach Yulius.

Buku yang saya baca, saya selesaikan di samping kesibukan saya. Selain saya mengajar dari pagi sampai sore, di jumat sabtu minggu saya kuliah. Saya hanya punya waktu setelah sholat subuh sampai saya berangkat mengajar.

Alhamdulilah, saya bisa menuntaskan satu buku setiap hari dengan durasi per buku 1 jam 15 menit. Ini rata-rata waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan 1 buku. Ini juga selesai dengan mind mapping.

Kalau dikumpulkan jumlah buku yang telah saya bacakilat dan buat mind mapping setelah pelatihan sampai sekarang sekitar 60 atau 70 buku (tanggal wawancara 20 Juli 2018, ed).

Hasilnya, yang jelas pertama sekali, tujuan awal saya karena ingin menyelesaikan tesis, alhamdulilah tesis saya sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu ujian.

Kedua, kemampuan berbicara saya, baik di diskusi ilmiah ataupun di forum rapat, karena saya pimpinan sekolah yang mengharuskan saya memimpin rapat. Alhamdulilah yang saya bacakilat itu, di dalam diskusi, di dalam rapat itu keluar semua

Setelah selesai diskusi saya selalu bertanya-tanya, “Dari mana saya punya bahan untuk menyampaikan ini. Padahal saya tidak ada menyusun konsep, menyiapkan bahan. Saat diskusi berjalan, semua yang saya sampaikan mengalir saja dan sesuai dengan teori yang ada di buku”. Inilah yang paling saya sukai dari Bacakilat.

Di dalam diskusi, baik itu di kampus atau di sekolah, hampir, hampir, hampir semua jawaban saya itu sesuai dengan buku yang pernah saya baca. Padahal saya tidak menghafal dan saya juga tidak tahu dari mana datanya.

Yang jelas, begitu masalah muncul, saya sudah punya solusi. Karena ini berkisar tentang manajemen pendidikan ya. Mengenai pengelolaan pesantren, pengelolaan sekolah, lembaga pendidikan, baik secara umum atau pun agama.

Semuanya, alhamdulillah sesuai dengan teori-teori yang ada di buku-buku yang telah saya bacakilat.

So, bagi teman-teman yang penasaran dan ingin mempelajari Bacakilat saya rasa ada satu hal yang harus diperjelas. Sama seperti saya, awalnya saya menduga-duga kalau Bacakilat itu bagaimana kita bisa membaca dengan cepat seperti speed reading.

Tapi setelah saya pelajari ternyata Bacakilat adalah bagaimana membaca yang efektif dan efisien. Jadi buat teman-teman yang berminat belajar Bacakilat yang perlu dipastikan adalah “kita mau seperti apa?”

Kalau fokus kita inginkan adalah kualitas, Bacakilat adalah pilihan yang paling tepat. Karena dari puluhan atau ratusan buku, mungkin banyak hal yang kita baca berulang-ulang hanya itu-itu saja. Tapi dengan metode Bacakilat apalagi dengan dibimbing dengan mind mappingnya itu akan sangat hemat waktu dan energi. Yakinlah setelah bacakilat apa yang kita inginkan dari membaca itu terpenuhi.

>