Bagaimana Dengan Berubahnya Mindset Membaca Seorang Alumni Bacakilat Bisa Menjadikan Membaca Menjadi Proses Yang Menyenangkan

Pak Bahauddin yang mengikuti Workshop Bacakilat 3.0 batch 142 di bulan Maret 2017 di Jakarta

Saya Bahauddin. Saya seorang pengusaha di bidang properti syariah, lembaga training, kuliner dan aplikasi. Sejak tahun 2011 saya sudah menjadi public speaker di Papua. Mengajar di bidang pengembangan diri, komunikasi dan semi perbankan.

Saat ini saya juga sedang kuliah lagi mengambil jurusan FK, kedokteran. Saya kuliah arsitektur tahun 2011, setelah selesai saya berkarir dan tahun 2016 lalu sampai sekarang saya mengambil jurusan kedokteran. Saya mengikuti Bacakilat angkatan 142 di bulan maret 2017 yang diadakan di Jakarta.

Sebelum mengetahui Bacakilat, masalah saya hampir sama seperti masalah kebanyakan orang.  Suka beli buku, tapi buku yang dibeli itu pasti tertumpuk. Tapi memang beberapa buku ada yang harus saya selesaikan karena kebutuhan untuk pekerjaan. Saya memaksa diri untuk menyelesaikan buku tersebut. Tapi lebih banyak buku itu tidak terbaca.

Saat ketemu copy writingnya pak Agus, “Tumpukan buku di rumah Anda banyak tapi tidak pernah selesai dibaca?”, itu kena banget ke saya. “Koq tahu banget”. Makanya saya langsung pengen mempelajari Bacakilat.

Bukan hanya beli buku saja, saya juga merasa kekurangan waktu untuk membaca. Setelah mengenal pak Agus, membaca itu bukan soal kurang waktu. Kita saja yang tidak tahu cara membaca yang lebih efektif.

Selanjutnya masalah mindset membaca. Banyak orang memiliki mindset membaca yang salah. Ketika ketemu dengan pak Agus mindset membaca saya menjadi lebih baik.

Kalau dulu saya menganggap, “Membaca buku itu harus sampai habis. Harus lembar per lembar dari depan ke belakang. Kata per kata”. Dan kadang-kadang mindset membaca saya itu betul-betul saya gantungkan ke penulis.

Harusnya kalau mindset membaca yang benar, membaca itu adalah personal business. Kita ambil apa yang kita butuhkan dan kita membaca dengan gaya kita membaca, bukannya didikte oleh penulis.

Karena buku itu seperti pelayan, sebenarnya. Jadi buku itu yang melayani kita. Jadi kita harus betul-betul dilayani oleh buku itu. Sehingga proses membaca itu menjadi lebih menyenangkan, bukan? Jadi kita tidak stres, “Aduh, belum selesai. Waduh baru halaman sekian”.

Itu yang selama ini membuat saya lama membaca. Akhirnya buku itu banyak sekali yang tertumpuk di rumah.

Setelah saya bertemu dengan pak Agus, buku-buku dari Jaya Pura saya bawa semua ke Jakarta karena sudah banyak tertumpuk di sana. Berapa kali berangkat ke Jaya Pura pulangnya saya pasti membawa buku. Saya jadi ingin praktek dan baca. Akhirnya, alhamdulillah, buku-buku yang saya bawa, satu per satu selesai terbaca.

Setelah mengikuti pelatihan Bacakilat saya sudah ada bacakilat sekitar 50 buku beserta dengan mind mappingnya. Termasuk 20 buku yang telah saya bacakilat, saya baca ulang.

Saya sangat senang saat mengetahui ada Bacakilat. Karena saya sudah lama mencari metode membaca yang bisa membantu mengatasi masalah membaca saya.

Jadi saat mendengar kalimat “Bacakilat”, “Wah, ini sepertinya keren banget, ini”.

Jadi waktu itu saya langsung pesan bukunya (pada saat pre order buku Bacakilat 3.0, ed). Bukunya yang versi cover warna hitam, yang beli satu dapat dua.

Jadi saat pertama kali dengar kalimat bacakilat, saya sudah positif. Kemudian pesan buku, baca dan ternyata setelah baca bukunya, banyak bingung. Karena harus mengikuti kelasnya. Saat itu saya putuskan untuk mengikuti kelas beliau.

Dulunya saya pernah belajar teknik membaca, saya lupa namanya, tapi cara membacanya seperti skimming. Membaca per suku kata sekaligus langsung ditatap. Jadi latihannya memang memperlebar jangkauan mata. Saya pernah belajar teknik membaca seperti itu.

Saya pernah melihat orang yang pernah berhasil tapi saya tidak berhasil. Makanya saya merasa sedih dan ketika saya bertemu dengan Bacakilat, saya sangat bersemangat dan positif.

Makanya saya sangat senang sekali sudah bisa kuasai Bacakilat meskipun belum sempurna, saya rasa efeknya maksimal sampai saat ini dengan praktek yang telah saya lakukan. Karena banyak hal yang bisa saya pelajari di waktu yang singkat. Apalagi kebutuhan saya sebagai pembicara, konsultan, mahasiswa dan pengusaha menuntut saya harus tahu lebih banyak bidang yang saya geluti saat ini.

Senang banget kalau bisa menuntaskan satu buku dalam waktu 2 jam. Dulu merasa itu hal yang tidak mungkin. Kalau sekarang itu menjadi hal biasa. Buku 300 halaman selesai maksimal 3 jam, wahhh itu enak banget. Sangat terbantu sekali.

Salah satu pengalaman menarik yang saya alami yang mungkin tidak dialami oleh peserta yang lain adalah, saya itu kemarin sempat malas latihan. Meskipun pak Agus selalu menyemangati kita untuk praktek di grup.

Akhirnya saya memaksa diri saya untuk latihan, dengan cara membuat grup bedah buku. Saya janjikan saya membedah satu buku setiap minggu, padahal saya sendiri masih malas-malasan hahaha. Ini namanya bunuh diri kan? Hahaha

Saya membuat grup facebook dan ini hanya ada di Papua. Yang ada di situ adalah alumni dari pelatihan-pelatihan saya, teman-teman dekat dan saudara-saudara yang ada di papua. Saya undang semua ke dalam grup itu. Saya sampaikan ke mereka, “Anda kalau mau baca buku lebih cepat, tonton saja bedah buku saya”.

Padahal waktu itu saya masih malas-malasan. Ini kan terlalu pede, tapi efeknya luar biasa. Saya jadi kepikiran, minggu ini belum ada buku. Cari lagi buku. Jadinya semangat kan, kalau tidak, malu dong.

Jadi semangat itu, memang target bergerak kata pak Mario Teguh. Dia memang harus dikejar terus. Kalau kita diam, anggurin semangatnya turun.

Jadi saya bilang ke diri saya, “Apa yang bisa saya buat ya? Agar saya bisa semangat terus dalam membaca”. Ya sudah, akhirnya saya “bunuh diri” saja dengan membuat grup di facebook, one man show seperti itu. Akhirnya saya dikejar, “Mana bedah bukunya? Mana lagi? hahaha” Akhirnya jadi semangat kan.

Selain menjaga momentum membaca saya juga harus menyelesaikan target membaca 20 jam pertama yang diminta oleh pak Agus. Dulu itu saya baru menyelesaikan 6 atau 7 buku, tapi semangat saya sudah loyo. “Aduh, ini parah ini” berata ke diri sendiri. Akhirnya saya ada ide gila membuat grup.

Setelah rutin membaca buku, saya merasa hampir semua aspek kehidupan saya bertumbuh. Karena kan, apa yang kita lakukan hari ini karena apa yang kita tahu di masa lalu. Jadi, jika kita mau mengubah kondisi di masa depan kita berarti kita harus memperbaiki apa yang kita ketahui hari ini.

Jadi kalau dapat ilmu baru hari ini, itu bisa dipastikan hampir semua aspek pasti berpengaruh. Mau kehidupan bisnis saya, religi, parenting, dan dalam dua tahun belakangan ini saya sedang fokus ke parenting juga.

Jadi tahun 2017 dari Januari sampai Desember, total sekitar 38 kelas parenting telah saya isi di Jaya Pura dan Makassar waktu itu. Dan itu berkat Bacakilat lho.

Karena saya sudah punya anak tiga, jadi saya juga harus fokus bagaimana caranya saya bisa menjadi orangtua yang baik dan diberikan kepercayaan untuk bisa sharing.

Jadi kalau ditanya perkembangan apa saja yang saya dapatkan setelah mempraktekkan Bacakilat,  hampir semua aspek kehidupan saya bertumbuh. Terutamanya yang saya rasakan, karena saya muslim dan muslim-kan wajib baca Quran. Alquran itu saya sering bacakilat.

Efeknya sekarang alhamdulilah bacaan saya sekarang jauh lebih lancar dan tahsin saya, tahsin itu adalah membaca yang baik dan benar. Itu jauh lebih diperbaiki dalam waktu satu tahun ini.

Kalau untuk profesi, kemampuan berbicara saya menjadi jauh lebih meningkat sekarang. Bahkan saya ada bidang baru. Tahun 2016 saya sudah ada di bidang parenting tapi scoop-nya masih belum terlalu luas, masih di scoop Jaya Pura saja.

Dan di tahun 2017 promosinya lebih baik, materinya jadi lebih aplikatif dan sudah bisa sharing sampai ke Makassar. Jadi saya benar-benar memaksimalkan teknik Bacakilat untuk memperbanyak bahan-bahan saya.

Pesan buat temna-teman yang ingin berlajar Bacakilat sekaligus saya juga ingin tujukan ke diri saya, saya ingin sampaikan, kalau kita ingin bertumbuh, cara paling cepat untuk bertumbuh adalah dengan membaca buku.

Kita sekolah butuh proses, butuh biaya, butuh bertemu dengan pengajarnya. Kita mentoring butuh coach. Tapi dengan baca buku, kita hanya membutuhkan beberapa puluh ribu, datang ke toko buku, kita telah punya buku dan sekaligus punya guru.

Tapi masalahnya kemampuan kita, keinginan dan motivasi kita sendiri untuk belajar terkadang tidak sebesar dibandingkan dengan tamasya atau kepoin mantan, misalnya. Motivasinya beda.

Nah, kalau kita ketemu pak Agus, tidak hanya teknik belajar saja yang kita dapatkan tetapi motivasi belajar juga. Selain itu waktu belajar dengan pak Agus pertama kali, sebelum kita masuk ke sesi teknik bacakilat yang sebenarnya, itu kan sesi pembentukan atau pengalihan motif (menjelaskan tentang mengapa peserta ikut pelatihan Bacakilat dan manfaat apa yang ia bisa dapatkan dari menguasai bacakilat, ed) yang betul-betul saya bisa dapatkan manfaatnya. Bahwa membaca buku itu penting, bahwa hidup ini singkat sekali, bahwa dalam waktu satu hari banyak orang bisa melakukan banyak hal karena ilmunya berbeda.

Coba bayangkan, ada orang yang bisa digaji 20 juta satu jam, ada orang yang digaji 500 ribu satu jam, itu bedanya apa? Bedanya karena kapasitas, kan? Jadi yang buat kita dibayar mahal kan itu kapasitas kita. Mana mungkin kapasitas kita bisa bertumbuh kalau kita malas belajar.

Nah, cara paling mudah untuk belajar adalah baca buku. Dan alhamdulillah saat ketemu pak Agus bukan hanya teknik baca buku saja yang saya dapatkan tapi saya juga mendapatkan motivasi untuk bertumbuh.

So, kalau memang belum percaya dengan Bacakilat, saran saya nothing to lose, datangi saja kelasnya. Karena kalau tidak suka kita bisa protes di kelas. Sejauh saya mendampingi (menjadi fasilitator di pelatihan, ed) beliau, Masya Allah, tidak ada orang merasa ini tidak ada manfaatnya. Luar biasa ilmu beliau.

Saran saya, introspeksi diri saja. Kalau memang untuk belajar membaca cepat saja kita malas berarti kemampuan belajar kita dipertanyakan. Ini sudah ada cara untuk kita bisa belajar lebih cepat. Kita juga masih malas untuk cari tahu, untuk berkenalan dengan orangnya, berarti kemampuan belajar kita memang rendah.

Wajar kalau memang sampai hari ini kita masih direndahin sama orang. Karena belajar dengan gaya lama saja belum tentu kita mau. Ini ada dikasih cara cepat tapi masih malas juga.

Saran saya buat teman-teman yang masih ragu, buat teman-teman yang belum kepoin pak Agus berarti butuh introspeksi diri. Berarti memang mungkin, kemampuan belajar kita hanya segitu. Karena banyak orang yang kemampuan belajarnya sedang-sedang saja tapi tetap mau ikut pelatihan Bacakilat.

Saat itu saya pernah mendampingi sebagai fasilitator, ada anak-anak SMA yang mengikuti pelatihan Bacakilat. Kalau kita mau membandingkan keingin belajar dengan yang profesional berarti mereka dibawah dong (maksudnya yang profesional, ed).

Itu kan karena mereka sadar kalau mereka kurang (butuh cara belajar yang lebih efektif, ed). Makanya mereka mau belajar. Orang kalau merasa sudah tidak merasa kurang, pasti tidak mau belajar

>